Jumat, 05 Juni 2015

Kegiatan Minggu ke lima (29 Mei 2015) : Les membaca tambahan

Setelah anak-anak PAUD An Intan pulang, ada beberapa anak murid yang mengikuti les tembahan untuk persiapan masuk ke SD. Anak yang mengikuti les tambahan umumnya sudah bisa membaca dan berhitung dengan baik. Disini saya membantu memberikan les membaca bagi mereka.


Memberi les tambahan membaca

Secara keseluruhan, saya mendapatkan banyak pengalaman baru yang sangat berkesan. Awalnya saya tidak antusias ketika diberi tugas untuk melakukan kegiatan sosial, namun setelah terjun langsung ke lapangan, saya sangat senang dan bersemangat untuk melakukan kegiatan sosial ini. Walaupun anak-anak PAUD An Intan masih sangat kecil, namun mereka mengajarkan banyak hal yang sering kita lupakan, bahkan abaikan. Belajar untuk sabar, belajar untuk kreatif, dan terpenting: belajar dengan antusias, belajar karena kebutuhan. bukan karena kewajiban. Harapan saya semoga baik anak-anak PAUD An Intan dan kelompok kami, sama-sama bisa terinspirasi untuk bersikap dan berkarya lebih baik lagi. serta membawa dampak positif bagi orang sekitar kami.




Kegiatan Minggu Keempat (29 Mei 2015 )

Pada minggu keempat, sekaligus kegiatan terakhir kami bersama-sama di PAUD An Intan, kelompok kami full team tiba di tempat pukul 08.00 pagi, Seperti biasa, anak-anak berkumpul untuk berdoa bersama. Selain berdoa bersama, kami juga melakukan senam pagi bersama. Anak-anak sangat antusias bergerak dan melompat sesuka mereka.

Setelah senam pagi, tak lupa kami berkumpul lalu saya memainkan piano lagu anak-anak, dan kami pun bernyanyi bersama-sama. Tepat pukul 09.00 pagi, anak-anak diperbolehkan untuk makan bekal yang mereka bawa. Saya sangat terhibur dengan obrolan anak-anak yang masih lugu dan polos.

Setelah makan bekal, kami berkumpul di teras untuk mewarnai pot keramik yang telah kami siapkan.
Disini, anak-anak sudah mengerti cara mencampur warna, seperti yang telah kami ajarkan di pertemuan sebelumnya. Mereka dengan bebas mencapur warna dan mewarnai pot keramik sesuka hati mereka. Meskipun saya sendiri setiap hari telah berkutat dengan cat dan lukisan, saya sendiri masih sangat terkesan dan terinspirasi dengan kreatifitas anak-anak tersebut. Sungguh menarik, karena hal ini mengingatkan saya untuk berkarya dengan antusias, bukan hanya berkarya karena sebatas kewajiban/kebutuhan akademis.

Setelah melukis di pot keramik, kami pun berfoto bersama dan melakukan penyerahan buku bacaan kepada PAUD An Intan. Semoga buku-buku yang kami berikan bisa bermanfaat bagi murid PAUD An Intan.







Kegiatan Minggu Ketiga (07 Mei 2015)

Nama: Anastasia Turnip
NIM: 1701342183

Pada kegiatan minggu ketiga ini, kami diberi kesempatan penuh dari Bunda untuk membimbing kegiatan sehari di PAUD An Intan. Kami sampai di PAUD pada jam 08.00, seperti biasa anak-anak duduk bersama untuk memulai rutinitas pagi yaitu doa bersama. Setelah berdoa dan bermain bersama, anak-anak diperbolehkan untuk makan bekal yang mereka bawa.

Setelah makan bekal, anak-anak kembali berkumpul, kebetulan di PAUD An Intan terdapat alat musik piano, jadi saya bisa mengiringi anak-anak untuk bernyanyi bersama. Kami menyanyikan lagu anak-anak secara bersama-sama, berkelompok, bahkan ada yang ingin menyanyi sendiri. Disini anak-anak dilatih untuk pede tampil didepan banyak orang. Semua berhak untuk didengar dan mendengarkan,



Haidar bernyanyi 'Burung Kutilang'

Setelah bernyanyi bersama, kami berkumpul di teras untuk memulai pelajaran mewarnai. Saya dan teman-teman terlebih dahulu menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan. Saya bertugas untuk menggambar, ada yang menggunting, dan ada yang menulis. Setelah bahan siap, kami mengajarkan anak-anak tentang Teori Warna yaitu belajar mencapur warna primer menjadi warna sekunder. Misal mencampur warna kuning+biru bisa menjadi warna hijau. Anak-anak sangat antusias karena ini pertama kalinya mereka bermain dengan media cat poster. 

Kami bersama-sama mewarnai gambar yang telah saya siapkan. Setelah mewarnai, anak-anak diajarkan untuk membaca judul dari gambar tersebut, dan juga belajar untuk menulis nama mereka sendiri di karya yang telah mereka buat. Disini saya mempelajari hal-hal yang sangat menarik, misal anak perempuan lebih 'telaten' mewarnai dibanding anak laki-laki, dll. Setiap anak-anak sangat berbeda dan berkarakter.





  Setelah mewarnai bersama murid PAUD An Intan



Kegiatan Minggu Kedua (10 April 2015)

Nama: Anastasia Turnip
NIM: 1701342183

Pada minggu kedua kegiatan kami di PAUD An Intan, kami berkesempatan untuk membimbing anak-anak menyaksikan Video interaktif membaca dan menyanyi dalam Bahasa Inggris. Menurut saya kegiatan ini sangat baik bagi anak-anak, karena pembelajaran tidak hanya harus dari guru saja, namun bisa didapatkan dari Video, televisi, dll. Selain itu, menyaksikan visual dan mendengarkan musik juga membantu perkembangan otak serta melatih kreatifitas & imajinasi.

Anak-anak sangat antusias dalam menonton video interaktif tersebut, mereka sampai bisa menghafal dan mempraktekkan kata-kata baru dalam bahasa Inggris yang telah mereka pelajari.



Bersama-sama menyaksikan video Interaktif

Kegiatan Minggu Pertama (02 April 2015)

Nama: Anastasia Turnip
NIM: 1701342183

Kelompok kami berkesempatan untuk mengajar di PAUD An Intan yang terletak di Jl.Kebon Kacang 3 no.113. Saya senang dan bersemangat untuk mengikuti kegiatan ini, karena ini pertama kalinya saya berkesempatan untuk mengajar anak-anak kecil di lingkungan akademis sekolah. 


Pada kegiatan minggu pertama ini, kami terlebih dahulu diberikan Briefing oleh Bunda pengajar di PAUD An Intan, yaitu Bunda Santi. Awalnya saya mengira kegiatan PAUD tidak terlalu sulit, namun ternyata banyak kriteria yang harus dipenuhi karena adanya standar langsung dari pemerintah. Hal ini perlukan agar kami dapat mengajar dengan baik dan sesuai dengan kriteria yang dibutuhkan.


Kami juga berkesempatan untuk berkenalan dengan anak-anak di PAUD, yang semua usianya dibawah 5 tahun. Kami pun membantu mengajarkan anak-anak untuk mengenal huruf dan belajar membaca. Walaupun terlihat sangat sederhana, hanya belajar mengenal huruf a/b/c, namun ini adalah salah satu fase yang krusial bagi anak-anak dalam mencerna pelajaran yang baru bagi mereka.






Briefing oleh Bunda Santi

Selasa, 23 September 2014

Street Style Illustration 1

Oke, udah bulan apa sekarang? September?
Maaf blog ku kamu terlalu lama dicuekin,

         Sekarang saya ngepost beberapa gambar yang saya buat belakangan ini. Kenapa milih street style sebagai referensi? Menurut saya street style itu fun dan menarik banget. Setiap negara, bahkan kota punya gayanya masing-masing. Contohnya, dan salah satu favorit saya, Seoul Street style. Gaya berpakaiannya cenderung rapi, banyak banget yang pakai warna hitam-putih dan juga denim. Tapi banyak juga yang pakai baju dengan gaya agak hip-hop, Mungkin karena pengaruh dari local brand yang ada. Agak iri juga sih, saya pengen juga bisa pakai local brand yang ada di Jakarta.

       Sebetulnya saya bukan anak fashion banget sih, cuma saya seneng aja meratiin karakter dari streetstyle. Yukmari scroll kebawah, selamat melihat-lihat! :D







Minggu, 13 April 2014

painting practice 1

Acrylic paint on 40x50cm canvas

Terbesit di pikiran saya ketika mendengar tren kata-kata asing yang belum pernah saya dengar, apa sejak jaman dulu fenomena seperti ini adalah hal yang biasa? Saya pun menanyakan hal ini pada Ayah saya. “Jaman dulu tuh sempet ngetren pakai kata-kata yang dibaca dari belakang. Makan jadi nakam, hebat jadi tabeh. Kalau bahasa yang sengaja dibuat aneh-aneh kayak sekarang sih, nggak ada.”
Fenomena yang biasa kita sebut ‘bahasa gaul’ semakin terlihat semenjak berkembangnya teknologi dan media social seperti Facebook, Twitter, dll. Kata-kata seperti woles,keles,cetar, sudah tidak terdengar asing lagi di media sosial, bahkan dalam percakapan di kehidupan sehari-hari. Kalangan generasi baru, atau generasi remaja saat ini dengan bebas, bahkan terkesan dengan sangat bangga menggunakan bahasa gaul ini. Peran Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar seakan-akan bergeser semenjak adanya fenomena bahasa gaul. Terus terang, saya sendiri terkadang merasa aneh dan canggung ketika menggunakan bahasa gaul pada percakapan sehari-hari saya.
Tentu saja, fenomena ‘bahasa gaul’ ini tidak bisa dihindari ataupun dihilangkan. Bahkan, sepertinya tren bahasa gaul ini akan terus berkembang seiring tingginya penggunaan media social. Alangkah baiknya generasi muda yang mendatang tidak melupakan. Alangkah baiknya ketika generasi muda yang mendatang bisa sepenuhnya bangga dengan bahasa dalam darahnya, bahasa yang ia pijak, bahasa ibunya, bahasa Indonesia.

Sebetulnya lukisan ini dibuat udah cukup lama, dari bulan Januari. Iseng-iseng nyoba ngecat pake gaya ala-ala pop art nanggung- berujung nemplok di kamar kosan. hehehe

Selamat hari minggu!